Dubes RI untuk Myanmar Malu soal Molotov dan Pembakaran Bendera

Dubes RI untuk Myanmar Malu soal Molotov dan Pembakaran Bendera

24
0

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Myanmar Ito Sumardi mengaku malu dengan adanya aksi pembakaran bendera Myanmar serta pelemparan bom molotov di Kedubes Myanmar, beberapa waktu lalu. Dia mengaku ditelepon pejabat Myanmar terkait peristiwa itu.

“Saya malu dengan adanya aksi itu (bakar bendera dan molotov). Saya langsung ditelepon pejabat Myanmar, mereka kecewa dan mengecam,” kata Ito ketika ditemui detikcom di Hotel Tugu, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (8/9/2017).

Ito menyebut aksi itu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Myanmar.

Dia pun mengaku langsung membuat surat resmi yang berisi penyesalan mendalam atas hal itu.

“Saya buat surat resmi tentang penyesalan mendalam mengenai aksi yang semestinya tak terjadi,” ucap Ito.

Ito menyebut ada 2 pejabat Myanmar yang meneleponnya terkait insiden itu. Orang pertama yaitu menteri luar negeri dan yang kedua adalah penasihat keamanan.

“Dua pejabat Myanmar, satu Menteri Luar Negeri dan Penasihat Keamanan. Mereka meminta adanya jaminan kedutaan dan warga Myanmar di Indonesia. Saya jawab iya pasti itu, makanya saya langsung menemui Kapolri,” kata mantan Kabareskrim ini.

Menurut Ito, hubungan diplomatik Indonesia dan Myanmar masih bisa dikatakan baik. Dia juga menyampaikan pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno LP Marsudi dan pemimpin Myanmar berdampak pada hubungan yang lebih baik.

“Tetapi tiba-tiba di dalam negeri terjadi protes-protes yang bisa menganggu apa yang sedang kita lakukan. Harusnya berilah kesempatan dulu, baru kalau memang tidak bisa melakukan formula yang disepakati barulah kita protes,” ujarnya.

Dia mengkhawatirkan apabila aksi terus terjadi maka bisa berdampak buruk pada hubungan kedua negara. Apabila hal itu terjadi, maka bisa berdampak pada ditutupnya penyaluran bantuan kepada warga Rohingnya.

“Terus kita bisa apa nanti, pesan-pesan, pengiriman bantuan akan tidak diberikan, jika mereka (Myanmar) menutup semuanya,” tegas Ito.

“Kalau mereka (Myanmar) tidak konsekuen dengan apa yang disepakati. Baru kita protes, jadi beri kesempatan dulu,” ucap Ito menambahkan.

Sumber : detik.com

LEAVE A REPLY